Pengelolaan sampah merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Semakin bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya aktivitas sehari-hari membuat volume sampah juga meningkat. Oleh karena itu, mengelola sampah dengan bijak perlu menjadi kebiasaan yang dimulai dari rumah. Salah satu langkah awalnya adalah memahami perbedaan antara sampah organik dan anorganik serta mengelolanya secara tepat. Bersumber dari DLH Sragen, Berikut ini adalah penjelasan mengenai cara mengelola kedua jenis sampah tersebut dengan efektif.
Memahami Perbedaan Sampah Organik dan Anorganik
Sampah organik adalah jenis sampah yang berasal dari makhluk hidup dan dapat terurai secara alami dalam waktu relatif singkat. Contohnya adalah sisa makanan, daun kering, kulit buah, sayuran busuk, dan kertas yang tidak dilapisi plastik. Sampah ini dapat diolah kembali menjadi kompos dan bermanfaat sebagai pupuk organik bagi tanaman.
Sementara itu, sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari bahan non-hayati atau proses pabrik dan sulit terurai. Proses penguraiannya bisa memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun. Contoh sampah anorganik antara lain plastik, logam, kaca, dan styrofoam. Sampah ini biasanya dapat didaur ulang, tetapi membutuhkan proses yang tepat serta fasilitas pendukung yang memadai.
Memahami perbedaan mendasar antara kedua jenis sampah ini memudahkan kita dalam memilah dan mengelolanya sejak awal sehingga tidak tercampur dan mudah diolah kembali.
Cara Mengelola Sampah Organik di Rumah
Sampah organik dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman di rumah. Berikut beberapa langkahnya:
-
Pisahkan sampah organik dari sampah lainnya.
Gunakan tempat sampah khusus untuk sisa makanan dan daun kering. Pemisahan sejak awal sangat memudahkan proses pengolahan. -
Buat komposter sederhana.
Komposter bisa dibuat dari ember bekas, pot besar, atau wadah tertutup lainnya. Pastikan memiliki lubang udara untuk mempercepat proses penguraian. -
Masukkan sampah organik ke dalam komposter.
Campurkan sisa makanan dengan daun kering atau tanah agar mikroorganisme dapat bekerja menguraikannya. -
Aduk secara berkala.
Proses pengomposan membutuhkan oksigen. Mengaduk kompos setiap beberapa hari dapat mempercepat proses. -
Gunakan hasil kompos untuk tanaman.
Setelah beberapa minggu hingga bulan, kompos akan berubah menjadi tanah hitam yang kaya nutrisi dan bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman di rumah.
Dengan langkah-langkah sederhana ini, sampah organik tidak hanya berkurang jumlahnya tetapi juga memberi manfaat kembali bagi lingkungan.
Pengelolaan Sampah Anorganik yang Tepat
Sampah anorganik umumnya masih dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang. Berikut langkah pengelolaannya:
-
Lakukan pemilahan sejak awal.
Pisahkan plastik, kaca, kertas, dan logam ke dalam wadah yang berbeda. -
Cuci sampah yang akan didaur ulang.
Sampah yang kotor akan sulit diproses dan dapat menimbulkan bau tidak sedap. Membilasnya sebelum disimpan membantu menjaga kebersihan. -
Setorkan ke bank sampah atau tempat daur ulang.
Banyak daerah telah memiliki bank sampah yang menerima sampah anorganik untuk didaur ulang. Misalnya botol plastik, kardus, dan kaleng dapat dihargai dan menghasilkan tambahan pendapatan. -
Kurangi pemakaian plastik sekali pakai.
Membawa tas belanja sendiri, botol minum, atau wadah makanan dapat mengurangi jumlah sampah anorganik yang dihasilkan setiap hari.
Mengelola sampah organik dan anorganik dengan bijak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. Dengan melakukan pemilahan sampah sejak sumbernya, memanfaatkan sampah organik menjadi kompos, serta mendaur ulang sampah anorganik, kita dapat membantu menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Langkah kecil yang dilakukan setiap hari dapat memberikan dampak besar bagi kelestarian lingkungan di masa depan. Mari mulai dari rumah dan jadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan.